Showing posts with label Celoteh Jiwa. Show all posts
    Showing posts with label Celoteh Jiwa. Show all posts

    Valentine's Day. Budaya Kafir yang dirayakan sebagian Umat Islam!

    Valentine’s Day sebenarnya, bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor kuffar. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine ? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (Al Isra' : 36).

    Sebelum kita terjerumus pada budaya yang dapat menyebabkan kita tergelincir kepada kemaksiatan maupun penyesalan, kita tahu bahwa acara itu jelas berasal dari kaum kafir yang akidahnya berbeda dengan ummat Islam, sedangkan Rasulullah bersabda: Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Radiyallahu 'anhu : Rasulullah bersabda: "Kamu akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Rasulullah bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?" ( HR. Bukhori dan Muslim ).

    Beberapa versi sebab-musabab dirayakannya hari Kasih sayang ini, dalam The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day, di antaranya :

    1. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama – nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. 
    2. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

    The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

    Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

    Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

    Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

    Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri! . Layaknya seorang muslim segera bertaubat mengucap istighfar, “Astaghfirullah”, wa naudzubillahi min dzalik.
     
    Ada beberapa orang mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

    Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

    Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

    Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.

    Sumber : Dari berbagai sumber

    Surat Dari Seorang Ibu

    Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih anak Sepanjang Galah
    Kita tentu sudah tidak asing dengan peribahasa di atas. Betapa tidak, dari mengandung, melahirkan sampai membesarkan, peran ibu tak terbilang dan tak terkata besarnya. Pengorbanan seorang ibu tak diragukan lagi, terbersitkah kita bagaimana dia mengabaikan kebutuhannya untuk mendahului permintaan kita, Surat ini benar-benar menyentuh hati, ketika membaca tulisan ini siapapun merasa trenyuh dan larut dalam suasana haru, kecuali yang berhati batu. Terbayang wajah ibu saya, yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibu adalah yang terbaik bagiku. Tak pernah ada kata tidak untuk kami anak-anaknya ketika meminta sesuatu. 
    Semoga Allah membalas kebaikan ibu dengan pahala yang besar. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberi petunjuk kepada saya untuk selalu memperlakukan ibu dengan baik serta mengasihinya sebagaimana ibu mengasihi kami, anak-anaknya.
    Robbigh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii soghiiroo

    Silahkan dibaca …………..

    Assalamu’alaikum,

    Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

    Wahai anakku,

    Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

    Wahai anakku!

    Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

    Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…

    Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

    Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

    Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

    Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

    Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

    Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!

    Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

    Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

    Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

    Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

    Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

    Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

    Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

    Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!

    Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

    Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

    Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

    Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

    Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!

    Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

    Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

    Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!

    Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

    Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

    Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau berkata: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

    Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

    Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

    Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)

    Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

    Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

    Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

    Wassalam,

    Ibumu

    [Diketik ulang dari buku ‘Kutitip Surat Ini Untukmu’ karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah]

    Catatan Mimpi di Hari Kebangkitan Nasional buat Kampong Halaman

    Dari SMA (sampai dengan sekarang), cita-cita aku dan teman-teman adalah membangun Kota Kelahiran, that’s it. Dabo Singkep. Kota yang nyaris mati pasca timah ini, akan kami bangun dengan segenap kemampuan yang akan kami miliki, biar kami dan anak cucu kami bisa melihat gedung-gedung pencakar langit bahkan untuk sekelas kedai kopi ‘Melati’ menjadi benchmarknya kedai kopi di seluruh dunia, Pasar Basah yang canggih, tinggal sebutkan apa yang kita inginkan, misalnya ‘Ikan Tamban Segar 1 Kilo’ dalam hitungan detik ikan tamban segar yang terbungkus apik telah berada di tangan sang pembeli, data-data teronlinekan yang dapat diakses di puluhan free hotspot, para pencari ikan telah menggunakan “Yacht” dilengkapi GPS dan 3G, tiap akhir pekan orang-orang dari segala penjuru datang untuk berkunjung, menikmati sejuknya air Batu Ampar, merasakan hangat dan manfaatnya sumber Air Panas, check in di puluhan resort-resort di kawasan Pantai Batu Berdaun. Kolong-kolong yang dulu bekas penambangan timah dan sarangnya ‘lelembut’ yang kerap mengisap calon perenang handal, kami ubah menjadi tempat rekreasi sekaligus pemancingan yang cantik. Upah dan gaji masyarakat Dabo Singkep pun menjadi pendapatan kota tertinggi se-asia tenggara. Itulah sekelumit mimpi kami di sela-sela menjajaki perjalanan ke Gunung Muncung dilanjutkan menelusuri terjalnya turunan lembah ke Batu Ampar.

    Pergilah kami dengan tekad dan doa meraih ilmu ke tanah seberang berpencar ke delapan penjuru mata angin. Satu, dua, tiga bahkan melebihi hitungan ke sepuluh tahun tak satupun di antara kami yang menyatu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Walaupun tak terhitung lulusan SMA tempat kumenuntut ilmu kini menjadi ‘orang’, temanku saja sebagian telah menjadi IT handal, ahli gas dan mineral, manajemen dan akuntasi cemerlang, bankir, pebisnis ulung, dokter, banyak juga yang memegang peran penting di Pemerintahan Kota, Kabupaten di daerah lain, aku turut bangga setidaknya mereka orang Dabo, pernahlah makan, minimal tahulah UPTS bukan Unit Penambangan Timah Singkep tapi Ulam Petai Tamban Salai.

    Seandainya mereka berkumpul lagi di Dabo dan apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk kelancaran dan kemajuan Dabo difasilitasi oleh pemerintah setempat bukan tidak mungkin mimpi kami selama ini terwujud menjadi kenyataan.

    Namun tetap saja jauh panggang dari api, berharap untuk menjadi Ibukota Kabupaten saja tidak berhasil (kalau tidak mau dikatakan tidak mampu). Sedih memang, saat kembali di Dabo bingung mau melakukan apa, di satu sisi ingin merangkai mimpi, sementara di sisi lain butuh hidup yang lebih baik. Apalah yang bisa dilakukan anak-anak pulau ini, karena memang beranjak dari Nol alias tak bermodal.

    Sekarang satu lagi generasi turunan orang-orang Dabo yang ‘berilmu’ lebih, angkatan adikku yang bungsu di Kota Gudeg, Yogya dan teman-temannya yang berada di kota lain tahun ini insyaallah menyelesaikan S1 mereka. Dialah satu-satunya anggota keluarga yang mengenyam bangku kuliah. Mengingatkan aku kembali pada belasan tahun yang lalu, ketika telah menyelesaikan pendidikan di Yogya juga walaupun tidak setara dengan kuliah karena faktor ekonomi tapi aku bersyukur bisa mengenal kota ini. Kota yang mengajarkan hidup mandiri, berani menantang masa depan, jauh dari orang tua, belajar bagaimana mengatur uang bulanan biar pas sampai akhir bulan sampai dengan menghadapi orang-orang yang memiliki sejuta kepribadian yang berbeda. Permasalahan yang membingungkan justru bukan menghadapi itu semua tapi masalah datang saat semua telah selesai, mau kemana mengatur langkah untuk menyongsong masa depan? Membangun kembali Tanah kelahiran ? Mungkin inilah dilema yang sedang dialaminya? Ingin membangun tapi harus melihat realitas keadaan Dabo. Menjadi pegawai negeri pun, beberapa instansi berada Daik, Lingga yang notabenenya lebih lengkap sarana dan prasarananya di Dabo.

    Mari kita pikirkan Apa yang bisa kita berdayakan menjadi komiditi yang nantinya akan berdampak untuk kesejahteraan masyarakat segala lapisan, bukan hanya memperkaya segelintir orang, oknum pejabat atau oknum aparat yang bersembunyi di balik eksploitasi SDA Dabo, setidaknya ada yang dikenal dari Kota ini pasca STQ Tingkat Propinsi beberapa waktu silam.

    Ahh…Hari kebangkitan nasional telah melalui tahun ke-101, kami masih saja bermimpi Merindukan Dabo bangkit. Naseb…Naseb…

    Israel : Bangsa Biadab !!!!




    Saat tulisan ini dimuat, tercatat sekurang-kurangnya 879 orang yang terbunuh akibat kebrutalan dan kebiadaban tentara Israel. Biadab, betul-betul tidak punya hati dari bayi, anak-anak sampai ke orangtua, tenaga medis dan wartawan tak luput dari kekejaman tentara israel dengan alasan memerangi Hamas. Zionist Israel tentunya sudah didukung dengan sekutunya (Amerika dan sekutunya) hingga detik ini membantai warga sipil, kenapa negara sebagian besar tak bergeming serentak menyerang israel???


    Tragedi Zeitun.

    PBB juga dibuat seakan tak berdaya alias ayam sayur atas serangan Israel karena dibacking oleh Amerika, Laporan PBB mengutip pengakuan dari korban yang selamat menyebutkan, pada tanggal 4 Januari pasukan Zionis mengumpulkan sekitar 110 warga Gaza ke dalam sebuah rumah di desa Zeitun dan menyuruh mereka untuk diam di dalam rumah. Tapi sehari kemudian, tepatnya hari Senin kemarin,pasukan Zionis menembaki rumah itu berulangkali sehingga 30 orang di rumah tersebut gugur syahid.

    Seorang petugas PBB menyebut tragedi pembantaian ini sebagai tragedi paling mengerikan sejak militer Zionis melancarkan serangannya ke Jalur Gaza dua pekan yang lalu. "Mereka yang selamat, berjalan sepanjang dua kilometer ke jalan Salahudin sebelum akhirnya dievakuasi ke rumah sakit. Tiga anak-anak, salah satunya bayi berusia lima bulan meninggal ketika tiba di rumah sakit," kata pejabat PBB itu.

    Meysa Fawzi al-Samouni, perempuan Palestina berusia 19 tahun yang selamat dari tragedi pada organisasi HAM Israel B'Tselem membenarkan bahwa tentara-tentara Zionis menempatkan sejumlah warga Gaza ke dalam sebuah bangunan sebelum mereka semua ditembaki.

    Ia mengatakan, warga yang gugur maupun luka-luka masih berada di lokasi di bangunan itu, di bawah reruntuhannya akibat tembakan misil-misil Israel.

    Korban selamat lainnya, Ibrahim Samouni, 13, mengalami luka di bagian dada dan kakinya. Ibrahim mengungkapkan, ia mencoba menyelamatkan tiga adik-adiknya dan berusaha menolong satu orang dewasa yang luka-luka dan tergeletak diantara jenazah. Sementara ibu Ibrahim sendiri syahid dalam insiden tersebut.

    Zionis Israel adalah penjahat perang dan Teroris yang sesungguhnya...Terkutuklah.

    Duka Gaza adalah duka bagi umat Islam sedunia. Menjelang tahun baru umat Islam, saudara-saudara kita dizalimi oleh rezim ilegal Zionis Israel. Selayaknya kita memanjatkan doa buat warga Gaza dan merenungkan kembali seberapa jauh kita mengingat penderitaan saudara seiman kita di Jalur Gaza.

    Sumber : Eramuslim, Palestine Free Voice

    New Life...New Theme but Not New Boss !

    Memasuki dunia baru yang dinamakan Pernikahan, tidak ada salahnya blogg ini berganti theme untuk menambah Spirit dalam blogging. Setelah hunting di google itheme template yang kesan minimalis ini aku pilih karena simple. Jujur, ngeblog salah satu sarana hiburan aku di sela-sela kerjaan yang semakin lama semakin menumpuk dan semakin tak jelas juntrungannya tension.

    Mulai dari manajemen yang bobrok, Job Diskripsi yang tak jelas sampai ke pimpinan yang sok pintar tapi dungunya minta ampun. Tapi aku selalu ingat kata orang bijak : Orang bahagia bukan pada Lingkungan Tertentu tapi pada sikap-sikap tertentu. Apa yang terjadi, terjadilah.

    Mungkin faktor pengalaman aku bekerja di swasta yang menuntut disiplin tingkat tinggi dan skill yang harus kita miliki terbawa di tempatku sekarang. Hingga akhirnya aku memasuki Lingkungan Pegawai Negeri Sipil, pangkat dan golongan menjadi hal yang utama di sini tanpa harus melihat kemampuan seseorang. Aku yang hanya golongan rendahan tapi memiliki keahlian lebih jika dibandingkan golongan di atasku tetap saja tidak pernah dipandang sebagai manusia yang memiliki nilai lebih. Mudah-mudahan ini tidak terjadi di lingkungan kerja lainnya.

    Baca Penilaian Ketua Komisi I DPRD Batam Ruslan Kasbulatov di Batam Pos :

    Kinerja PNS Masih Lemah
    Kamis, 13 November 2008

    Tingginya penghasilan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemko Batam, dianggap Ketua Komisi I DPRD Batam Ruslan Kasbulatov belum dibarengi dengan kinerja mumpuni. Indikatornya, banyak pelayanan terhadap publik yang keluar dari standar pelayanan minimum (SPM)-nya.
    ”Kita lihat masih banyak PNS yang keluyuran di jam kerja. Masih banyak yang ke kantor hanya duduk-duduk,” katanya.

    Ruslan berharap, Pemko Batam memiliki barometer yang jelas untuk mengukur kinerja pegawainya. Sehingga, pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam satu dua hari, tak berlarut-larut hingga berbulan-bulan.

    Ruslan menyebut contoh dalam pembuatan KTP berbasis sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK). Sistem ini sudah berganti software dengan harapan pelayanannya makin cepat. Bahkan, Pemko menjanjikan paling lama dua minggu KTP sudah selesai.

    ”Tapi, kalau warga bikin KTP, setelah foto pasti disuruh kembali lagi satu setengah bulan lagi. Itu kan berarti, SPM yang didengung-dengungkan itu belum berjalan. Sistemnya mungkin sudah cukup baik, tapi kinerja atau SDM PNS-nya belum bagus,” tukasnya.

    Ruslan meminta Pemko Batam mengetatkan pengawasan terhadap kinerja pegawainya. Pegawai nakal yang berkeliaran di jam kerja atau yang hanya duduk-duduk di kantor, harus diberi sanksi. ”Harus ada reward and punishment. Berikan penghargaan kepada yang bekerja baik, tapi beri sanksi kepada yang nakal,” paparnya.

    Tak hanya soal pembuatan KTP, pelayanan di Puskesmas dan RSUD Batam juga dikeluhkan. Dalam penjaringan aspirasi ke masyarakat hinterland, kata Ketua Fraksi PPP Plus Irwansyah, banyak warga yang kecewa dengan pelayanan di RSUD. Terutama di bagian penerimaan pasien. Pegawai tak simpatik dan terkesan enggan menerima pasien miskin.

    Kejadian ini disampaikan langsung Irwansyah kepada Direktur RSUD Batam Fardiani Nurdin dalam rapat anggaran di DPRD Batam, Selasa (11/11) lalu. ”Ini harus segera diperbaiki,” kata Irwansyah.
    Bahkan, Husbandre dari PDI Perjuangan meminta Pemko Batam melatih atau menyekolahkan pegawainya ke sekolah kepribadian. ”Agar mereka tahu bagaimana melayani masyarakat. Kalau tak ada dana, bilang saja biar kami tambah di APBD,” tukas Husbandre. (med)

    Ah..lupakanlah memang perlu waktu mengubah sikap, sifat dan etos kerja PNS yang dari jaman Mbah, Bapakku sampai sekarang, untunglah aku masuk murni tanpa sepeser pun uang pelicin yang kukeluarkan seperti teman-temanku sebelumnya makanya aku ikut PNS tahun 2005 yang lalu, sedikit banyak tidak mengharapkan pamrih. Amien.

    Lets Blogging...Forget All


    Alhamdulillah..

    Hanya itulah satu kata yang pas untuk hari-hari yang indah sekaligus mendebarkan dalam bulan-bulan terakhir ini.Ya.. Pesta pernikahan aku, yang diadakan pada tanggal 18 Oktober 2008 -alhamdulillah-berlangsung dengan lancar. Saudara, Teman, Guru, Relasi Kerja dan Handai taulan hampir semua datang .

    Alhamdulillah... Rasa was-was yang menyelimuti akhirnya terbayar dengan berjalan lancar karena persiapan 90%, aku dan istri yang menyiapkan sendiri, sungguh melelahkan dari awal hunting barang-barang hantaran, undangan, catering, dokumentasi sampai dengan ngantar undangan sebagian besar kami lakukan berdua .

    Pukul 10.30 WIB. Meski telat setengah jam akad nikahnya dari jadwal yang ditetapkan, tidak mengurangi hikmatnya acara, yang unik dan jarang terjadi yang menikahkan aku adalah orang yang sama yang menikahkan orangtua istriku or mertuaku dulu. Jarang sekali terjadi seperti itu.

    Pukul 11.30 WIB. Akad nikah selesai, Suka cita menyelimuti suasana. Airmata tak tertahankan padahal sekuat tenaga ditahan untuk tidak nangis tapi sia-sia

    Pukul 12.00. Siang hari kami ke Gedung BLK, yang dari awal memang sudah direncanakan untuk mengadakan acara di gedung ini karena dekat dengan rumah sekaligus tempat kerja, jadi teman yang shift sore bisa datang, tanpa diduga undangan sudah datang sebelum jam acaranya Pukul 13.00 - 18.00WIB. Alhamdulillah acara pun berlangsung lancar tanpa ada halangan berarti .

    "Terimakasih buat Saudare mare, kawan dan relasi yang sudah menyempatkan hadir di Pesta Pernikahan aku, mohon Doa dan Restunya, Semoga berkekalan hingga akhir hayat". Amien.

    "Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya memberkati mereka berdua,
    meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu
    dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat."
    (Doa Nabi Muhammad SAW, pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)





     

    About Me

    My Photo
    Hendro
    Bukan Penulis... Bukan Novelis... Hanya Ingin Berbagi...
    View my complete profile

    Followers

    HENDRO Says Thanks for coming and Email Me